Kategori

Lowongan (3) agama (3) artikel (4) bandung (6) indonesia (4) informasi (7) jurnalisme (2) know (13)
Let Me Tell
free counters
Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Oktober 2012

"Haram" Menghalangi Kerja Jurnalis

Insan pers kembali mengigit jemari kebebasannya ketika upaya untuk meliput jatuhnya Hawk 200 di Kampar, Riau, beberapa waktu lalu dihalang-halangi oleh oknum TNI AU dengan cara-cara fisik bahkan sampai mencekik dan merampas perlengkapan para jurnalis yang sedang bertugas. Reformasi kembali menjadi sebuah ironi bukan? Para jurnalis pun geram dibuatnya, walaupun kemudian oknum TNI yang berbuat kasar tersebut pun meminta maaf beberapa hari kemudian tapi hal tersebut mesti diantisipasi mengingat ternyata banyak tindak kekerasan terhadap jurnalis dilakukan oleh oknum-oknum "alat negara". Hal ini mengingatkan kembali masa kelam pers dan media dalam dominasi aparat pemerintah ketika rezim Soekarno berkuasa selalu menjadikan alasan kepentingan sekuritas sebagai tolak ukur dalam "menghakimi" orang-orang yang dianggap bersalah.

Sungguh tak terbayangkan bila kasus tersebut dianggap sepele oleh pemerintah dan TNI, dikhawatirkan tindak impunitas akan marak terjadi dalam berbagai kasus selanjutnya. Kita ingat Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin, jurnalis Harian Bernas Yogyakarta yang diserang orang tidak dikenal pada 13 Agustus 1996 dan akhirnya ia meninggal tiga hari kemudian. Polisi mengajukan Dwi Sumadji sebagai tersangka, kendati keluarga Syarifuddin yakin Dwi Sumadji bukan pelakunya. Pengadilan Negeri Bantul membebaskan Dwi Sumadji yang terbukti tidak bersalah, namun polisi tetap tidak mau mencari tersangka baru.Sejak kejadian tersebut hingga tahun 2011 Aliansi Jurnalisme Indonesia (AJI) mencatat hanya ada satu kasus saja yang bisa ditangani dengan baik oleh kepolisian yakni pembunuhan terhadap Prabangsa, jurnalis Radar Bali. Setidaknya dalam laporan terakhir AJI menyatakan ada sembilan kasus impunitas yang terjadi hingga tahun ini. (baca: http://ajiindonesia.or.id/read/article/seminar/81/diskusi-praktik-impunitas-terhadap-pembunuh-.html)

Kamis, 26 April 2012

Meracik Nilai, Meredam Gaya

Oleh: Indra Abdurohim*
Muqadimah
Pada suatu masyarakat dimana pertumbuhan nilai-nilai luhur semakin minimal sedangkan gaya hidup (lifestyle) semakin maksimal, yakni ketika persoalan lifestyle yang cenderung berkiblat ke dunia Barat yang harus selalu up to date dijadikan alasan segalanya dalam berkehidupan.Ketika itulah aspek nilai semakin terkikis habis, perhatian agamawan, ilmuan dan pejabat publik sekalipun menjadi barang langka.
Ilustrasi hubungan barat dengan Islam
(
http://4.bp.blogspot.com/_GoX8evc4nW4/SNysOlkrX-I
/AAAAAAAAAZM/Oi9RjcZUQlY/s1600/gambar%2Bkartun.JPG
 )
Demikian menjamurnya gaya kehidupan modern yang menawarkan budaya tampilan sehingga memaksa bangsa ini menjadi konsumennya. Padahal bila kita cermati gaya hidup kaula muda saat ini khususnya kalangan remaja, seseorang yang dikatakan “gaul” ialah orang berpenampilan sempurna diluar, memakai celan jeans dan berpakaian “hot” atau seksi seperti yang diperagakan media televisi (TV) belakangan ini. Pola makan dan minumnya pun haruslah mengikuti pola periklanan di TV yang kebanyakan didominasi merk-merk asing.
Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa persoalan budaya modern, terutama dalam gaya hidup ialah persoalan “fun, food, and fashion” (Kesenangan, makanan, dan busana) seperti halnya yang telah diungkap oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam “Megatrends 2000”.
Fokus budaya modern seperti itulah yang memang telah suskes menggaet gaya hidup masyarakat Indonesia, terutama kaula muda. Idi Subandi dalam “Budaya Populer Sebagai Komunikasi” mengatakan bahwa “kini adalah abad gaya hidup, dimana penampilan adalah segala-galanya”.Penampilan-penampilan ini mencakup dalam; penampilan fashion seperti mode berpakaian; penampilan dalam kesenangan seperti musik, film, dll; serta penampilan makanan yang dianggap trendi seperti Mc Donald, Coca cola, dsb.Inilah yang kemudian Subandi istilahkan dengan “Kamu bergaya, maka kamu ada!”Sebuah plesetan dari “Cogitu Ergo Sum”-nya Descartes.

Senin, 02 Januari 2012

Media dan Bocah-bocah

Oleh : Indra Abdurohim
(seorang penjaga warnet)

Seorang anak membuka akun Facebook-nya
             Membicarakan media tentu merupakan hal yang sudah tak asing baik di mata maupun dalam indra visual di keseharian kita. Media bagaikan seorang kekasih yang intim memadu informasi bagi khlayak, begitu setia memberikan berita  update setiap hari. Tak hanya itu, ia pun begitu memanjakan kita dengan berbagai sarana dari mulai program-program hiburan di Televisi hingga video berbau serampangan di internet.
Media khususnya internet menjadikan semua hal tersebut terasa begitu mudah untuk diakses, mulanya memang media yang memiliki perkembangan sarana hiburan, berita dan informasi yang cepat ini memberikan dampak positif bagi khalayak banyak. Namun kemudian apa yang terjadi? media yang bebas nilai itu cukup membuat gemas dan cemas orang banyak terutama para orang tua. Mereka khawatir anak mereka menjadi ketergantungan oleh apa-apa yang disuguhkan media maya.
Media maya seolah menjadi momok monster mengerikan bagi orang tua, karena cukup sulit untuk diabaikan oleh bocah-bocah generasi sekarang. Media maya seolah menjadi morphin dikehidupan interaksi sosial, padahal mereka adalah anak-anak yang baru saja mengenyam pendidikan sekolah dasar. Ya, mereka hanyalah bocah-bocah yang sedang tinggi hasrat ingin tahunya saja. Namun hal inilah yang menjadikan bocah-bocah tersebut berbeda dengan generasi sebelumnya, wajah bersosial mereka jauh berubah : akrab dengan games online, facebook, youtube, hingga berbagai hal lainnya yang tak banyak content-nya bersifat kasar dan “xxx”.

Iklan

Search and download it!

Berita terkini

wibiya widget