Kategori

Lowongan (3) agama (3) artikel (4) bandung (6) indonesia (4) informasi (7) jurnalisme (2) know (13)
Let Me Tell
free counters

Rabu, 27 Januari 2010

Masjid Agung Bandung


Lebih dari 100 tahun yang lalu, bangunan istana umat Islam di pusat kota Kembang berdiri kokoh. Seperti halnya bayi yang baru lahir, dia tidak begitu saja bisa langsung berjalan apalagi berlari. Semua ada tahapan-tahapan tertentu yang harus dilalui. Begitu pula dengan mesjid yang terletak di pusat Kota Bandung ini. Tidak serta merta bisa kokoh dan nampak indah seperti sekarang.

Dalam riwayatnya, Mesjid Agung Bandung dulu awal dibangun hanya berbalutkan dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Begitu pula dengan aksesoris mesjid yang lain masih menggunakan bahan-bahan tradisional. Bahkan ada kolam cukup luas yang digunakan untuk berwudhu, sumber air ini pun bermanfaat untuk memadamkan si jago merah yang terjadi di sekitar Mesjid Agung Bandung pada waktu itu.

Sejarah lain mengatakan pembangunan pusat ibadah umat Islam terbesar di Kota Bandung ini “berduet” dengan pembangunan Pendopo Kabupaten Bandung di selatan pusat Kota Kembang ini. Selain itu mesjid ini adalah salah satu elemen pusat kota tradisional waktu negeri ini, di jajah oleh negeri kincir angin yaitu sebagai simbol religiusitas serta sebagai pusat keagamaan kota.

Masyarakat Priangan sangat memanfaatkan mesjid ini sebagai lahan untuk beribadah. Tidak terbatas melaksanakan shalat saja tapi juga aktivitas agama yang lain. Begitu pula yang dimanfaatkan oleh para pengelola mesjid, berusaha untuk bisa memakmurkan tempat ibadah ini dengan berbagai aktivitas seputar Islam. Contohnya adalah menggali potensi masyarakat terhadap Al-Quran dengan mengadakan pengajian, ataupun memperingati hari-hari besar umat Islam.

Mesjid Agung ini juga sering disebut Bale Nyungcung (Bale: tempat pertemuan masyarakat, nyungcung: lancip). Dikatakan seperti itu, karena bentuk atapnya yang lancip (nyungcung) seperti gunungan. Menurut catatan sejarah, mesjid yang bertempat di Alun-Alun Bandung ini berhadapan dengan Bale Bandong yang berfungsi sebagai tempat pertemuan tamu kehormatan Kabupaten Bandung.

Sama seperti halnya kantor lembaga biasa, mesjid ini pun memiliki struktural kepengurusan agar tata tertib dan kemakmuran mesjid lebih terjaga. Karena ketekunan para teknokrat masjid dalam melaksanakan amanahnya, syi’ar dan kemakmuran rumah Allah ini senantiasa terpancar ke setiap penjuru kota kembang.

Karena mengikuti arus zaman, pusat ibadah ini pun mengalami metamorfosis dalam perwajahannya. Mulai dari bongkar pasang bangunan mesjid sampai perombakan di sekitarnya agar lebih luas. Beberapa ornamen masjid dibuat lebih menarik dengan gaya khas Priangan.

Meskipun demikian, bangunan mesjid tidak luput dari wajah tradisional Sunda dari bentuk mesjid sampai aksesoris yang terpajang pun menyampaikan bahwa seni Sunda tidak akan pernah hilang meskipun tergiring ombak perubahan zaman menjadi lebih modern. Di tahun-tahun berikutnya, Mesjid Agung dilengkapi dengan serambi depan dan sepasang menara yang tidak begitu tinggi dengan tutup menara dibuat tumpang susun di kiri-kanan bangunan.

Mesjid yang juga dijuluki “Kaum Bandung” ini terus mengalami pembedahan bangunan. Perubahan drastis tampak pada atap mesjid, atap mesjid tumpang susun yang dipakai dari awal mesjid ini terbentuk, kini diubah menjadi kubah model bawang bergaya Timur Tengah. Lalu dibangun menara tunggal yang berdiri tegak di halaman depan mesjid. Masa demi masa telah dilalui, seiring bergulirnya perubahan perkembangan kota yang terkenal dengan oncomnya ini, kini Masjid Agung pun menjadi pusat pendidikan Islam serta pusat kesehatan masyarakat.

Kemakmuran mesjid yang pernah menjadi tempat pertemuan besar seperti Konferensi Asia Afrika ini semakin nampak jelas. Kumandang takbir yang berkoar-koar memanggil umat Islam sekitar sana untuk segera menunaikan ibadah shalat terdengar sangat lantang. Gemuruh orang-orang yang menuntut ilmu dari anak-anak sampai kakek-nenek berkumpul disana. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekitar pun tak terelakan. Kini Masjid Agung memiliki multi fungsi, bukan hanya sebagai sarana ibadah saja.

Gema tausiyah yang disampaikan oleh para da’i bukan hanya dapat didengar oleh para jama’ah yang hadir di tempat, tetapi juga dengan mengudara melalui media elektronik seperti radio. Sehingga masyarakat juga dapat mendengarkan ceramah melalui radio.
Setelah adanya pelantikan pemimpin baru Jawa barat pada waktu itu, Mesjid Agung dibedah total. Beberapa tubuh mesjid yang sudah tidak digunakan diwakafkan kepada mesjid-mesjid yang ada di Kota Peuyeum (tape singkong) ini. Tanpa tinggal diam, Gubernur Jawa Barat yang baru itu langsung mengerahkan pasukan untuk merombak kembali Mesjid Agung. Untuk tahap pertama yaitu, pembuatan bangunan yang menjulang tinggi serta dibuatnya jalan penghubung antara Mesjid Agung dengan pusat kota. Pembangunan itu memakan biaya puluhan juta rupiah.

Perombakan itu membuat wajah mesjid semakin modern. Lantai mesjid kini sudah bertingkat, semua bahan pembuatan bangunan yang terbuat dari bata dan beton, ornamen menara yang dilapisi logam, atap kubah model bawang yang diganti dengan model joglo. Namun, atap tradisional mesjid diganti dengan kubah, sehingga kesan bangunan mesjid akan lebih mudah dikenali.

Perubahan ini semakin memberikan kesan modern yang kini telah menguasai arus zaman hingga mesjid pun tak luput dari korban modernitas. Meskipun demikian, bangunan baru ini dapat menampung ribuan orang, selain itu terdapat ruangan khusus untuk meminjam ataupun membaca buku bagi para pengunjung mesjid.

Perlu diketahui pula, bahwa Presiden pertama RI pun pernah berkontribusi dalam perombakan Mesjid Agung Bandung. Namun beberapa tahun setelah kemerdekaan RI, perwajahan Mesjid Agung sungguh sangat memprihatinkan. Dinding mesjid saat itu di penuhi ornamen batu granit serta pintu gerbang yang dikerangkeng besi.

Perubahan itu membuat tempat ibadah terisolasi. Di tambah dengan hiruk pikuk pertokoan yang dari tahun ke tahun semakin menghimpit mesjid bersejarah ini. Beberapa puluh tahun kemudian, di tangan seorang arsitek, mesjid ini mengalami kembali perubahan yang cukup signfikan. Yaitu dengan diperluasnya beberapa pijakan kaki mesjid serta me-reshuffle beberapa bangunan.

Hingga akhirnya renovasi besar-besaran ini mengundang perhatian tokoh besar Jawa Barat. Maka beliau mengadakan pertemuan dengan beberapa pasukan yang turut andil dalam pembangunan mesjid untuk merubah nama Mesjid Agung menjadi “Mesjid Raya Bandung Jawa Barat”. Proyek renovasi ini memberikan nuansa baru dengan dibangunnya dua menara kembar dengan ukuran ketinggian yang melambangkan asma Allah SWT. Bangunan yang mejulang tinggi ini juga dimanfaatkan untuk kepentingan komersial, telekomunikasi dan obyek wisata.

Jumat, 02 Oktober 2009

Titik Nadir Mudik

Senandung Takbir senantiasa bergema dengan syahdunya menandakan hari kemenangan telah tiba. Orang-orang berduyun-duyun pergi ke masjid dengan hati yang sumringah, serempak menggelar salat akbar yang setahun sekali, Iedul fitri telah datang.
Setelah sebulan lamanya masyarakat kaum muslim menjalankan ibadah puasa menahan lapar, dahaga dan hawa nafsu yang meraung-raung dalam tubuhnya, kini semua serasa mulai terbalas apa yang telah dilakukannya. Hal ini pun diperindah dengan berkunjungnya sanak saudara yang jauh-jauh datang dari kota untuk bersilaturahmi, mengikat kembali tali-temali yang sempat merenggang dan saling bermaaf-maafan. Damai setidaknya itu kata yang mungkin tepat dalam menggambarkan situasi seperti itu.

Maka tak heran Lebaran atau Iedul fitri menjadi acara yang sangat penting, orang-orang kota perantau rela mengantri, bermacet-macetan, berpanas-panasan di terik matahari, mengendarai motor puluhan kilometer dengan hanya untuk merayakan lebaran di kampung halamannya masing-masing. “Mudik”, ya itulah kata yang pasti kita kenal. Secara bahasa kata mudik ini ternyata berasal dari kata “udik” yang artinya hulu sungai, pegunungan, kampung/ desa, orang yang pulang kampung tersebut disebut “me-udik” kemudian dipersingkat menjadi “mudik” yang kurang lebih artinya adalah pulangnya para perantau yang mengembara (mencari nafkah) di kota untuk kembali ke asalnya.

Sekarang fenomena mudik ini menjadi salah satu tradisi religiusitas turun temurun masyrakat Indonesia dan menyerap menjadi budaya khas lebaran yang tak terkikis oleh ruang dan waktu. Fenomena bermaafan dan bersilaturahmi dapat menyimbolkan fenomena metafisik, yakni fenomena religiusitas dan komunikasi transendental antar manusia dengan Tuhannya (Habluminallah). Sehingga dapat juga dijadikan sebagai satu variabel untuk mengukur tingkat religiusitas seseorang. Salah satu konsep religiusitas dalam metodologi penelitian, misalnya, model Glock dan Stark (1989), adalah mempertanyakan apa yang diistilahkan sebagai keterlibatan ritual (ritual involvement), yaitu tingkat sejauh mana seseorang terlibat mengerjakan ritual-ritual tradisi keagamaan mereka, dan juga keterlibatan secara konsekuen (consequential involvement), yaitu tingkatan sejauh mana perilaku seseorang konsekuen dengan tradisi ajaran agamanya.
Konsekuen religi mereka pun bisa di ukur dari segi ekonomi, tapi sayangnya prinsip asas manfaat dan budaya hemat dalam ekonomi banyak dari mereka yang mengabaikan.
Uang hasil kerja keras di kota rela dihamburkan demi kepentingan-kepentingan mereka dan keluaraga. Hal itu tentu saja sangat berberangan dengan keyakinan islam seutuhnya, dimana riya (memamerkan) dan berboros-borosan atau berlebih itu dilarang dengan keras dalam Kalamullah. Tapi hal demikian itu mereka anggap perlu dengan alasan sebagai bukti betapa suksesnya mereka hidup di kota, tak sia-sia mereka hijrah ke kota selama ini. Mereka korbankan tabungan mereka, mereka belikan perhiasan yang mentereng, kendaraan bermotor yang anyar dan barang-barang yang lainnya.

Tapi positifnya semua pengorbanan itu dianggap impas ketika mereka sampai di kampung halaman bisa bercengkrama dengan sanak saudara, ayah dan bunda mereka. Semangat kebersamaan antar umat seiman mereka perlihatkan dengan berkeliling silaturahmi saling bermaafan dan berbagi sesamanya. Uang yang hanya mengalir deras di kota itu kini mulai berputar di desa-desa, walau sesaat tapi cukup untuk mensejahterakan orang desa dan sejumlah orang miskin tak lagi mengernyitkan keningnya walaupun, itu berlaku hanya sementara saja antara satu atau dua hari.

Mudik Jembatan Kumuhnya Kota
Tradisi mudik yang banyak menyedot perantau ini pun tak ayal menjadi jembatan kunci informasi dari kota untuk desa. Para perantau yang “berhasil”, berbagi berita dan cerita kesuksesan mereka ketika di kota, memberikan informasi pekerjaan yang layak di kota.

Sehingga menjadi pemicu arus urbanisasi yang kompeten setiap tahunnya, menyebabkan kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung menjadi lebih sesak lagi dengan datangnya para perantau yang mencoba menggantungkan nasibnya. Mereka berharap dengan hijrahnya dari desa ke kota bisa mendapatkan pendapatan keseharian yang lebih baik di kampungnya, padahal para migran ini tidak mempunyai skill memadai yang diperlukan di kota. Sehingga pada akhirnya banyak diantara mereka yang malah menganggur dan menambah lebih banyak lagi gelandangan.

Maka, bila melihat kedepannya patologi (kesimpangan) sosial yang terjadi di kota-kota akan lebih sulit lagi untuk di bendung karena para perantau tersebut lebih banyak yang gagal dan menjadi pengemis di kota yang menyebabkan lebih banyak lagi tempat kumuh, sehingga tingkat kriminalitas pun meninggi. Kalaupun pulang kampung mereka pasti akan merasa malu dan tidak akan pulang sebelum kesuksesan tersebut di raihnya.

Dengan begitu hendaknya semangat bersilaturahmi, bermaafan dan berbagi di hari lebaran seharusnya dapat lebih ditingkatkan dan tak hanya sekedar menjadi fenomena tahunan belaka. Menjadikan lebaran sebagai akar yang kuat dan menumbuhkan pohon sosial yang penuh nilai dan makna yang solid dan peduli serta menjadikannya budaya kehidupan sehari-hari. Mungkin dengan begitu sedikitnya dapat mengimbangi patologi sosial yang terjadi di kota.

Selasa, 11 Agustus 2009

Surganya Noordin M Top

Almarhum Bendul baru seminggu meninggal dunia, oleh Malaikat jalan-jalan di akherat guna diperkenalkan dengan lingkungan barunya.Disuatu tempat Bendul melihat orang-orang yang disiksa, dicambuk dan dibakar di atas api neraka. Setelah disiksa mereka mati tapi hidup lagi lalu disiksa lagi. Begitu terus berualng-ulang. Lalu Bendul lalu bertanya kepada Malaikat. “Wahai Malaikat, tempat apakah itu namanya? dan kenapa mereka disiksa?”“O..itu namanya neraka, tempat orang-orang yang selama hidupnya suka mencuri, berzina, korupsi dan semua perbuatan berdosa lainnya.” jawab Malaikat.O.. begitu ya…lalu Bendul diajak berjalan lagi untuk melihat tempat penyiksaan yang lain sampai suatu saat Bendul melihat Noordin M Top CS sedang berada di tempat yang sejuk, indah dan pemandangannya indah sekali.Di sana Noordin M Top CS ditemani wanita-wanita cantik telanjang, diiringi musik nan merdu, di meja dihidangkan makanan yang serba lezat. Lalu dengan sedikit heran Bendul bertanya. “Wahai Malaikat tempat apakah itu namanya ?”“O..itu surganya Noordin M Top !’ Jawab malaikat. Kemudian Bendul diajak berjalan lagi.Tiba-tiba terdengar suara Bom, Bluarrr,,Bendul heran tapi masih terdiam,,mereka pun berjalan lagi. Sekitar sepuluh menit kemudian terdengar bom lagi.Bendul pun bertanya kepada Malaikat, “Suara apakah itu wahai Malaikat ?”“O..itu suara bom, setiap sepuluh menit surganya Noordin kami ledakkan..!! !” jawab sang Malaikat
Salam

Kamis, 23 Juli 2009

Bahaya Nasi, apakah bener bahaya?

Hasil research yang baru saja di lakukan membuktikan bahwa makan nasi ternyata tidak baik bagi kita.

Buktinya :

1. NASI MENYEBABKAN KECANDUAN. Responden kami yang tidak makan nasi selama sehari saja akan kelaparan dan merasa sangat ingin makan nasi lagi.

2. SETENGAH dari seluruh siswa Indonesia yang makan nasi nilainya ada di bawah rata-rata kelas.

3. Suku-suku pada zaman batu yang tidak pernah makan nasi terbukti TIDAK PERNAH mengidap tumor, Alzheimer, osteoporosis, ataupun Parkinson.

4. Dokter melarang bayi yang baru lahir untuk makan nasi. Hal ini menjadi bukti bahwa nasi punya dampak berbahaya yang sudah dibuktikan oleh ilmu kedokteran.

5. Nasi yang kering biasa dimakan oleh ayam. Nah, sekarang anda perlu curiga dari mana flu burung berasal.

6. Jumlah pemakan nasi di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pemakan nasi di negara maju. Ini mungkin salah satu penyebab keterbelakangan pada negara ini.

7. Di warung-warung, biasanya KULI makan nasi dalam jumlah lebih banyak daripada kaum eksekutif. Hal ini membuktikan! jika makan nasi MENURUNKAN kemampuan ekonomi seseorang.

9. Makan nasi dapat menyebabkan rasa haus alias MENYERAP air. Padahal tubuh kita sebagian besar terdiri dari air.

10. Dalam kondisi tertentu, makan nasi MENINGKATKAN resiko kematian. Misalnya makan nasi sambil menyetir mobil.

11. Pengidap DIABETES lebih dianjurkan makan kentang daripada nasi. Berarti nasi kurang baik bagi kesehatan.

12. Makan nasi menyebabkan keinginan mengkonsumsi sayur dan lauk. Misalnya nasi bandeng (nasi + bandeng goreng), nasi kucing (nasi + kucing goreng),dsb. Hal ini bisa menyebabkan obesitas.

13. Nasi mengandung ZAT BESI yang konf elektron terluarnya 4s2. Zat lain yang elektron terluarnya 4 adalah Racun ARSENIK (4p3), Batu batere TITANIUM (4s2), dan racun yang menyerang Superman yaitu KRIPTON (4p6). Ini mengindikasikan bahwa nasi punya kesamaan dengan zat-zat berbahaya lainnya.

14. Nasi DIMASAK dalam suhu lebih dari 100 derajat Celsius. Itu panas yang cukup untuk bunuh orang.

15. Nasi menyebabkan berkurang ketelitian dalam melihat.. buktinya Anda tidak memperhatikan bahwa No. 8 tidak ada,

so, Anda pasti akan melihat ke atas lagi untuk membuktikan No. 8 Tidak ada. Hehehehe..

Rabu, 15 Juli 2009

Atasi

Bagaimana menjawab bagaimana
Ketika lautan kembali terbelah
Langit membentuk warna merahnya
Aku tak sanggup brbuat apapun
Sujudku yang senantiasa bisa ku tapaki sendiri
Pasrah, bukan itu yang aku inginkan
Pedang apapun yang ku punya kan aku acungkan ke langit
Ku robek udara pnas itu
Kan ku datangkan musim semi yang mengiring bernyanyi

Jumat, 19 Juni 2009

Republik Mie Instan

Jika dahulu kita mengenal istilah Banana Republic, maka hari ini apakah kita sedang diperkenalkan dengan sebuah istilah baru, yaitu Republik Mie Instan ?.


***


Sejak dua tahun optimal menulis Sketsa, selalu saya tulis di atas 1..000 kata. Karena banyak topik lucu di ranah kehidupan, maka mendesak waktu menulis Sketsa Pendek.

Tahun lalu topik mie instan pernah saya tuliskan. Industri mengubah pola konsumsi dari lebih sehat, macam memakan pisang, juga mengkonsumsi produk pertanian lainnya. Kini beragam jenis pisang punah. Genetic resources, kekayan bangsa, terabaikan. Tega nian bila mencapres memakai jingle mie instan ?.

Batang pisang itu agak runcing di banding jenis pisang lainya. Apalagi dibandingkan pisang kepok. Tandan buah rata-rata selengan. Butir pisang berkulit buah kuning mengkilap, licin, tidak berbintik di kala matang. Mulus. Aroma uniknya sudah tercium dari jarak 10 meter. Kami di kampung dulu menyebutnya pisang lidi. Ada rasa manis, juga sedikit asam, segar, wangi.

Pengalaman menebang batang pisang lidi semasa kecil dulu, hingga kini tetap lekat di hati. Sehinga jika berkesempatan pulang ke kampung, pisang lidi salah satu yang saya cari. Malangnya, kini si lidi sulit dicari.

Di dalam literatur, sebutir pisang mengandung vitamin A, B1, B2 dan C. Pisang dapat membantu mengurangi asam lambung, menjaga keseimbangan air dalam tubuh, menanggulangi, mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti; gangguan pada lambung, penyakit jantung dan stroke, stress, menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Bahkan jenis pisang raja, dikenal mengandung antioksidan.

Di benak saya acap melintas sosok bayi disuapi pisang yang digerus dengan sendok. Itu artinya, pisang sehat untuk bayi. Entah karena banyaknya manfaat pisang, almarhum ibu saya mencoba menanam pisang di atas trotoar di bilangan Karet Belakang, Karet Kuningan, Jakarta Selatan. Ia rajin menyiram baik dengan air got maupun malalui selang air bersih yang sengaja disiramkan.

Saya masih ingat pernah suatu ketika sebuah mobil berpelat CD, parkir di seberang rumah ibu. Dari jok belakang keluar seorang bule bertubuh tinggi, berdasi. “This is banana tree ?”, ia bertanya kepada ibu. Sambil berjongkok, sosok bule pejabat kedutaan negara sahabat dari bilangan Eropa itu terkesima. Ia berjongkok, melihat pisang tumbuh di atas aspal di trotoar.

Saya perhatikan, kekagumannya akan pokok pisang kepok yang besar. Apalagi di atas pohon yang lumayan tinggi ada dua tandan besar buah, hijau menjuntai. Kekaguman bule itu menjadi-jadi. Saya perhatikan ibu begitu bangga menceritakan pohon pisang di tengah kota Jakarta itu.

Logikanya bila di atas tanah yang terbatas saja, sepokok pisang dapat tumbuh segar berbuah bagus, beragam hamparan luas tanah Indonesia, seharusnya mengalirkan manca-ragam pisang, yang mampu menyehatkan anak negeri melalui konsumsi salah satu bahan pangan yang amat menyehatkan.

Celakanya, dalam 30 tahun ini, pola konsumsi anak negeri, seakan digeser ke bahan pangan signifikan lain macam mie instan.

Rebusan pisang kepok, yang menjadi sarapan pagi atau penganan petang di kampung dulu, menabal kampungan kini.

Sesuatu yang trendy itu, adalah yang berbau hasil industri, berbau dipromosikan melalui televisi, macam mie instan. Bukan rahasia lagi bila mie instan, kurang cocok dikonsumsi anak-anak, namun sebaliknya fakta di lapangan kini, penggemar dominan mie instan justru kanak-kanak.

Jika produk yang kurang menyehatkan itu, menjadi salah satu brand mempromosikan salah seorang calon presiden, akal sehat saya mengatakan sebagai langkah penabalan mie instan menyingkirkan makanan sehat, semisal pisang, mengusik logika akal sehat.

Dari sudut para pakar komunikasi yang mengambil inisiatif memakai jingle mie instan bagi pencapresan seseorang, bisa menjadi prestasi sakti mendraguna, karena sudah top of mind.. Lagunya diingat segenap anak bangsa.

Apalagi bila kemudian kuat dugaan bahwa di saat hari pencoblosan, iklan produk mie sungguhan dengan jinle senada seirama diputar di teve dan radio gencar, sehingga penggirangan kuping warga kebanyakan berasosiasi ke seseorang; menjadi semcam co branding, dalam istilah kerennya.

Sayangnya, beberapa warga orang biasa yang saya temui di bilanagn tempat almarhumah ibu saya tinggal di mana tanaman pisang ibu kini masih berdiri-diri tumbuh dan berbuah di trotoar jalan, mereka percaya bahwa pisang lebih sehat. Lebih celaka lagi, anak-anak yang suka ngejreng gitar nongkrong di pinggir jalan bilang, “Itu promosi telah menghina kreatifitas anak negeri.”

Jika sudah demikian keadaannya, bukan saja etika binis sebuah produk mendukung kampanye layak dipertanyakan, pengingkaran kreatifitas anak negeri menjadi-jadi, melupakan bahan pangan sehat yang seharusnya disosialisakan pemimpin negeri, justeru sebaliknya terjadi.

Logika sehatkah ?.

Artikel ini dapat dibaca di :

Menabalkan Mie Instan Mengalahkan Pisang

http://public. kompasiana. com/2009/ 06/15/menabalkan -mie-instan- mengalahkan- pisang/

***

kalau lagu kebangsaan indonesia raya boleh dipakai untuk kampanye, saya yakin lagu itu akan dipakai capres untuk kampanye. capres mana pun dia. apakah yang mengklaim paling kiri, paling tengah, atau paling kanan. semua pasti ingin memakai lagu kebangsaan yang paling diingat dan paling menggetarkan jika dinyanyikan.

simpulan ini muncul saja tiba-tiba ketika di kantor presiden menunggu anggota komisi i dpr yang mau ke malaysia terdengar lagu itu. lagu ciptaan pak a riyanto dan pertama dipopulerkan pak johan untung itu digubah dan dinyanyikan kembali mas mike idol itu terdengar dari bebe salah seorang anggota ring setengah istana.

ngomong-ngomong, anda tahu kan anggota ring setengah istana ?

keheningan lantas pecah. saya tersenyum sambil tiba-tiba saja membayangkan rasa soto madura imitasi.

luar biasa memang lagu itu. mendengar intro atau satu dua kata awal syairnya saja, aroma mi instan rasa kegemaran kita tercium di depan hidung kita.

mungkin kasus seperti yang saya alami ini berlebihan.. namun, saya tidak sendiri. banyak generasi indonesia yang dibesarkan setidaknya dua puluh tahun terakhir mengenal betul lagu itu. beberapa murid sekolah dasar bahkan kerap keliru ketika diminta gurunya menyanyikan lagu “dari sabang sampai merauke”.

melekat eratnya lagu itu di benak generasi indonesia menjadi alasan utama bagi fox indonesia untuk menungganginya.

pak choel, mallarangeng ketiga, mengamininya saat tengah menggagas menggubahnya dan meminta hak ciptanya. “tak ada lagu yang begitu melekat erat di benak indonesia selama 20 tahun terus menerus selain lagu itu. lagu itu juga mencerminkan keragaman. semua bahasa utama suku-suku di indonesia memiliki syairnya,” ujar pak choel.

pak choel menjelaskan alasan itu di ketinggian di dalam pesawat yang disewa dan diberinya nama demokrat air force one.

daf-1, begitu pak choel memberi call sign untuk pesawat itu.

saat bercerita tentang kampanye pilpres dengan bantuan mi instan itu, pak choel mengenakan kaca mata hitam kegemaran dan sebatang rokok tersulut bara di tangan.

sementara kandidat lain masih bertarung di internal siapa yang diajukan sebagai capres dan sibuk menakar-nakar teman koalisi, foxindonesia sudah merancang pilpres 2009.

tidak heran jika persiapan begitu matangnya. di istana, tahapan untuk pertarungan di pilpres sudah dirancang jauh sebelum pak beye menyatakan akan nyapres lagi, september 2008.

dengan segala persiapan panjang, dukungan paling besar baik dari sisi dana dan kendaraan, amat keterlaluan jika pak beye dan pak boed gagal menang satu putaran. apalagi, serangan udara di bawah koordinasi mantan kepala staf tni au yang kemudian menjadi panglima tni tengah gencar ditembakkan.

saya yakin anda semua telah kebagian serangan-serangan itu, setidaknya aroma soto madura telah dikirim ke ruang keluarga anda saat mas mike menyanyi lagu yang memang luar bisa.

mi instan rasa apa kegemaran anda ?. kalau saya soto madura.

Artikel ini dapat dibaca di :

Mi Instan Rasa Fox Indonesia

http://wisnunugroho .kompasiana. com/2009/ 06/07/mi- instan-rasa- foxindonesia/

***

Bicara soal asli dan palsu barangkali sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kita orang Indonesia.

Bukan rahasia lagi kalau bangsa kita ini termasuk penggemar setia barang palsu. Dari sekadar barang konsumsi sehari-hari sampai dunia jasa dan hiburan. Tentu kita akan dengan senang hati beroleh barang dengan merek terkenal dan tampilan ciamik dus didapat dengan harga murah pula.

Berbagai cara dilakukan untuk menciptakan dan memasarkan produk-produk palsu ini.

Tengok saja beberapa jenis produk makanan, mulai dari ditambahkan zat kimia tertentu dalam bentuk pewarna dan perasa sampai dengan mengubah komposisi bahan baku.

Didunia panggung dan hiburan nyaris tiada beda, dalam sekejap pemeran yang biasa-biasa saja, secara instan bisa di makeover menjadi luar biasa. Nyaris tidak butuh waktu lama. Tengok saja acara semacam idol-idolan atau dream girls.

Bicara soal pilpres 2009, sadar atau tidak, kita kembali dihadapkan pada fenomena ini.

Dalam setiap fenomena memilih, istilah asli atau palsu dengan setia akan berada di hadapan kita. Mulai dari janji palsu, slogan palsu, tampilan palsu, program palsu dan berbagai jenis makhluk abal-abal lainnya.

Tapi eits, tentu saja tidak ada yang mau mengakui secara telanjang segala jenis kepalsuan ini, karena sekarang telah ditemukan istilah baru yang nyaman di telinga yaitu pencitraan. Apapun itu, bagi pelaku dunia hiburan artinya pastilah sama dengan make over

Nah sekarang mari kita bahas satu persatu, barang-barang (eh maaf, tokoh-tokoh) yang akan kita pilih sebagai presiden nanti. Kita mulai saja

Susilo Bambang Yudhoyono :

Bicara soal tokoh yang satu ini, siapa yang tak kenal. Ibarat product, bapak yang satu ini masuk di segment premium. Content bagus, packaging bagus, promosi dan jalur distribusi pun bagus. Sebagai product yang menyandang kualitas premium tentu saja tidak boleh ada cacat produksi, lecet sedikit saja konsumen akan teriak-teriak mengajukan komplain.

Selama ini brand yang disandang adalah santun, cerdas, hati-hati, beretika dll.

Sedangkan secara kemasan pun sudah oke yaitu dinobatkan sebagai product (eh maaf capres) yang memiliki presidential look.

Promosi pun jor-joran baik lewat udara maupun darat. Tim marketing tersebar di seluruh nusantara.

Lalu apa kurangnya ?.

Yah, kembali ke soal kualitas premium tadi, satu ketika di bulan lalu sang capres muncul dengan wajah angker dan mengecam lawannya. “Jangan galak-galak ya !”, begitu kata sang capres dengan roman wajah yang mengingatkan konsumen pada sang penguasa orde baru.

Sontak saja media-media menayangkan berulang-ulang kemasan terbaru ini.

Hasilnya ?. Orang-orang pada kaget dan tidak percaya, tidak sedikit pula yang mengecam karena product premium mereka ternyata sekarang sudah tidak sesuai spesifikasi awal lagi.

Bagaimana ini ?.

Sebenarnya yang asli yang mana ?. Yang kemarin itu atau yang sekarang ini ?.

Jusuf Kalla :

Nah yang satu ini katanya baru bercita cita menjadi premium.

Selama ini sudah punya diferensiasi yang cukup kuat. Bolehlah kita bilang sebagai product yang merakyat. Selayaknya Indomie dan Rinso, mayoritas orang sudah tahu rasa dan kualitasnya sehingga dirasa tidak perlu lagi merombak tampilan kemasan.

Distribusi pun sudah merata di seluruh negri, walaupun banyak orang beranggapan masih belum pantas masuk golongan premium quality.

Bagaimana dengan tim marketing ?. Seolah sependapat dengan mayoritas konsumen, mereka pun tidak tergiur dengan ide pemolesan kemasan, cukup memasyarakatkan keunggulan citarasa dan kualitas, dan berharap moga-moga tambah banyak yang suka.

Cuma tidak mudah juga untuk menempuh cara ini, karena untuk segmen product seperti ini biasanya saingannya banyak dan semua mengaku yang terbaik atau yang pertama ?.

Bagaimana dong ?. Bicara soal asli atau palsu, Anda bisa nilai sendiri lah, hehehe

Megawati Soekarnoputri :

Terakhir ini adalah contoh product unik.

Anda tentu sering bertemu konsumen fanatik dimana-mana. Tidak peduli zaman berubah dan musim berganti, bicara soal product pilihan tidak akan pernah kelain hati.

Selama ini Megawati biasa tampil dalam dua rasa, yaitu rasa pedas dan rasa gurih.

Rasa pedas dipasarkan di tengah-tengah lapangan, di bawah teriknya matahari dan gegap gempitanya suasana. Warna kemasan biasanya merah menyala. Slogan adalah Merdekan!!!. Biasanya dalam kemasan ini, sang capres akan berpidato dengan lantang dan berapi-api, meniru kebiasaan sang ayahanda.

Rasa gurih baru dipasarkan beberapa bulan terakhir. Pertamakali launching di tayangan Kick Andy MetroTV dan teranyar di hadapan pengurus KADIN. Ibu yang mengaku paling cantik ini tampil layaknya ibu rumah tangga biasa, murah senyum dan tak pelit bercanda. Lugu, orisinil dan sederhana.

Menurut hemat saya kedua rasa ini merupakan product asli ?.

Bagaimana menurut Anda ?.

Nah sekarang berpulang kepada konsumen, pilihan didepan mata. Ada produk premium, produk merakyat dan produk terpercaya. Barangkali nanti tim marketing juga akan meluncurkan berbagai promosi dan bonus, seperti bonus bisa menyanyi yang laku lima tahun yang lalu.

Kita lihat saja

Artikel ini dapat dibaca di :

Genuine President vs Artificial President

http://public. kompasiana. com/2009/ 05/28/genuine- president- vs-artificial- president/

Jumat, 29 Mei 2009

PACARAN SEBAGAI KEBUDAYAAN KONTEMPORER REMAJA

Sebagaimana yang telah kita ketahui istilah pacaran ini dulu sangatlah asing dan tak dikenal oleh para remaja seperti sekarang ini, namun pada dewasanya pacaran sudah merebak bak jamur di musim penghujan baik itu dalam lingkup kota maupun desa pada kalangan remaja di abad ini. Para remaja ini seolah membuat suatu tradisi kebudayaan baru yang dalam hal ini mengusung pacaran sebagai suatu budaya pada masanya.

Sebenarnya mungkin itu adalah sautu kewajaran yang biasa dalam pergaulan remaja kini bahkan pacaran ini sekarang dianggap sebagai suatu kewajiban dalam prosesi pergaulan mereka.

Padahal ketika dahulu prosesi pacaran ini tidaklah ada bahkan khususnya di Indonesia, pacaran itu dianggap sebagai suatu hal yang dianggap tabu dan bahkan sangat dilarang karena tidak sejalan dengan nilai dan norma khususnya dalam pandangan agama yang pada saat itu sifatnya sangat mengikat kuat terhadap masyarakat.

Lalu kenapa pacaran sekarang seolah menjadi tradisi yang sudah tak mungkin lepas dari kehidupan remaja?

Sebelum membahas hal tersebut, kebudayaan sebagaimana yang telah kita ketahui adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa manusia atau dalam pengertian lain, yakni berupa keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar.

sedangkan pacaran menurut para remaja sendiri adalah suatu ikatan perasaan cinta dan kasih antara dua individu yakni lelaki dan perempuan untuk menjalin suatu hubungan yang lebih dekat yang pada esensinya untuk saling mengena lebi jauh untuk menuju proses upacara sacral (menikah) atau untuk mencari pasangan hidup yang dianggap cocok.

Maka dari pendefinisian itulah pacaran dinggap sebagi salah satu budaya masyarakat khususnya remaja karena merupakan hasil ide, gagasan, dan aktivitas tingkah laku keseharian mereka. Sehingga pada efeknya sekarang banyak para remaja menganggap bahwa pacaran merupakan suatu hal yang wajib sebagai jalan mendapat jodoh.

Pada awalnya pacaran ini merupakan seperti yang telah dikemukakan diatas sebagai prosesi mengenal satu sama lain dengan cara mengikat dan menyatakan hubungan mereka kedalam bentuk yang bisa dikatakan formal agar dapat mengenal secara intim. Namun pada perkembangannya pacaran disini seolah menjadi mode, bila seorang belum pernah pacaran bisa dikatakan ketinggalan zaman. Hal seperti itulah kiranya yang membuat remaja membangun persepsi wajibnya pacaran bagi kalangan mereka.

Kegiatan pacaran ini sebenarnya implikasi dari rasa kebutuhan seseorang atau lebih karena kekurangan mereka dalam mendapat perhatian dan pengertian sebagai makhluk sosial, sehingga timbulah suatu kekuatan atau dorongan alasan yang menyebabkan orang tersebut bertindak untuk memenuhi kebutuhannya, dalam hal ini pacaran

Adapun pada dasarnya sekarang motif sosiogenetis yang asalnya hanya menekankan pada individu untuk ingin dimengerti orang banyak menjadi ingin diakuinya individu pada daerah tersebut. Sebagai contohnya hari ini seseorang akan merasa dirinya minder terhadap orang lain yang mempunyai pasangan (pacar) sedangkan ia tidak. Sehingga dapat di gambarkan sebagai berikut:


Kebutuhan Motive Perilaku

-------------->>> ------------------->>> ---------

Bersosial Pengakuan sosial Pacaran


Sehingga pada penilaian diatas lingkungan sosial sudah barang tentu sangat mempengaruhi seseorang. Terkait masalah lingkungan sosial yang terjadi, ternyata pacaran sendiri sebenarnya sudah diperkenalkan kepada para remaja antara lain karena pengaruh keluarga khususnya keluarga perkotaan. Dimana sebagian orang tua menganggap jika ingin mendapatkan pasangan hidup yang cocok baiknya harus saling mengenal secara lebih intim lebih dahulu untuk mengetahui sifat-sifatnya seperti apa, apakah akan sejalan dan cocok ataukah tidak dengan menggunakan pacaran sebagai jembatan prosesi tersebut. Akibatnya sekarang dengan adanya dorongan itupun pacaran akhirnya berkembang dari suatu budaya menjadi sebuah tradisi.

Budaya pacaran ini pada masyarakat Indonesia dulu tidak terlalu berkembang melesat seperti sekarang. Salah satu hal yang menjadikan budaya pacaran ini menjadi tradisi adalah pada khalayak remaja adalah tak lain karena pengaruh media teknologi abad sekarang yang selama ini serta merta menyoroti kegiatan-kegiatan remaja yang di dalamnya lebih banyak terfokus kepada pacaran tersebut. Sehingga pada efeknya melalui media para remaja menganggap pacaran sebagai tren atau mode berbudaya pada abad ini.

Awalnya pacaran tidak semudah itu merangsek masuk kedalam culture masyarakat Indonesia karena dianggap tidak sesuai dengan nilai dan norma masyarakat khususnya umat beragama Islam. Akan tetapi pacaran yang sebelumnya orang menganggap sebagai sosiopatik atau sakit secara sosial karena menyimpang terhadap norma, sekarang perlahan melumer dan berakulturasi dengan budaya lingkungan sekitar yang karena pengaruhnya ini dibantu oleh media sebagai produk kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi dan urbanisasi pada masyarakat modern yang dimana amalgamasi (sambungan, campuran, keluluhan) yang kompleks terjadi dan menghasilkan pacaran sebagai sebuah tradisi kebudayaan pada para remaja khususnya pada perkotaan.

Maka dalam hal ini penulis menganggap bahwa pacaran juga merupakan tingkah laku yang dahulu dianggap menyimpang terhadap norma, yang kemudian sejatinya sekarang menjadi meluas pada masyarakat sehingga berlangsunglah deviasi situasional yang kumulatif. Akan tetapi sebenarnya pacaran tidaklah terlalu menyimpang terlalu jauh selama para remaja masih bisa memegang teguh terhadap nilai budaya masyarakat yang ada.

Sebagai kesimpulan akhir penulis berpendapat bahwa pacaran pada buktinya menyatakan adanya inter-dependensi (saling ketergantungan) atau ada ketergantungan-organik diantara disorganisasi social dan pribadi sehingga mempengaruhi kebudayaan sebelumnya pada kebudayaan sekarang dengan mengaitkan pacaran sebagai budaya dan tradisi kontemporer. Pacaran ini pun pada esensinya sangat dipengaruhi oleh media sebagai hasil teknologi yang menyebabkan proses asimilasi menjadi begitu mudah karena lingkup asimilasi kini menjangkau pada ideologi dan budaya setiap individu dengan kemungkinan waktu bersamaan secara kumlatif atau menyeluruh, sehingga terjadilah anggapan ataupun pandangan masyarakat khususnya remaja mengenai pacaran sebagai prosesi kehidupan yang harus dicoba dan dilalui



Referensi

Koentjaraningrat, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Ahmadi, Abu., 2002. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Kartono, Kartini., Patologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Iklan

Search and download it!

Berita terkini

wibiya widget