Kategori

Lowongan (3) agama (3) artikel (4) bandung (6) indonesia (4) informasi (7) jurnalisme (2) know (13)
Let Me Tell
free counters

Minggu, 21 Februari 2010

Your reviews is get bonus for you

This is information to everyone to get a bonus of reviews, survey or opinions. you can get additional income from it. this is LinkFromBlog.com company is established in 2008 and based in the USA in the State of Minnesota. As an American company, we are governed by the American Consumer protection laws and business regulations that keep you safe from false advertising and unsafe products.

Earning money off paid reviews is the easiest way to monetize your blog, allowing you to get revenue very quickly. just register via link below :

Advertise with my Blog

Paid reviews


Follow the instruction, after that you can start your reviews and get additional income from here, you can add your blogspot, wordpress, twitter blog or other. this is easy way to fill your PayPal account. thank you.

Rabu, 27 Januari 2010

Saung Angklung Mang Udjo



Siapa tak kenal angklung sekarang? Seni alat musik khas Jawa Barat ini pasti dapat dikenali langsung oleh banyak orang, bahkan tak hanya oleh masyarakat Jawa Barat seantero Nusantara hingga berbagai Negara pun tentu mengenali ke khasan alat musik yang seluruhnya murni terbuat dari beberapa bilah bambu yang di bentuk dengan unik ini.

Angklung yang khas ini tak pernah bisa terlupakan dari benak masyarakat tatar sunda, nada-nadanya yang indah selalu mengingatkan para rantauan sunda mengingat Bandung. Kini angklungpun sedang bersaing dengan budaya modern yang serba elektronik. Maka untuk menyelamatkan angklung agar tak tergerus oleh liarnya peradaban modern, lahirlah Saung Angklung Mang Udjo. Seni Parahyangan ini memang harus dilestarikan dan diselamatkan agar budaya kita dapat dikenali oleh semua orang yang tak hanya dari masyarakat Jawa Barat saja.

Saung Mang Udjo yang sekarang menjadi salah satu andalan pariwisata Bandung ini, sejak dulu memang mempunyai komitmen yang tinggi dalam mengangkat seni budaya Bandung, khususnya angklung. Padepokan seni angklung ini yang didirikan oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati sudah 44 tahun lamanya sejak tahun 1966 berdiri menjadi sebuah sanggar angklung.

Apabila menengok kedalam saung suguhan pepohonan hijau banyak menghiasi, rindang dedaunan hijaunya memberikan kenyamanan yang begitu asri, banyak pohon-pohon bambu yang dengan riangnya memberikan esensi yang khas akan lingkungan sunda yang sangat lekat. Riuh-riuh lantunan sunda kian asik menggiring pikiran mebayangkan budaya sunda dahulu kala. Saung Angklung Mang Udjo menghadirkan betapa dahsatnya aura seni sebuah nada yang dibunyikan oleh angklung.

Banyak sekali pertunjukan yang di gelar pada sanggar yang kini berubah menjadi semacam gedung pertunjukan. Banyak anak yang menari melengak-lenggok kesana kemari menarikan tarian sunda ditemani oleh iring-iringan lagu “Tokecang” dan “Cis Kacang Buncis”, mereka sedang memperagakan “kaulinan barudak”. Ya, tak hanya seni angklung saja yang ada di Saungnya Mang Udjo ini tetapi permainan daerah pun ikut diangkat demi menjaga keunikan dan kelestariannya supaya barudak (anak-anak) sunda tidak melupakannya begitu saja.

Keceriaan barudak yang sedang bermain permainan daerah itu senantiasa hidup selalu meramaikan suasana kampung angklung. Aktifitas mereka merupakan ruh dari Saung Angklung Udjo, sejak berdirinya sanggar sunda ini proses regenerasi seni tradisi dilakukan dengan cara bermain sambil belajar. Di setiap sudut, senyuman dan sapaan anak-anak selalu menemani ketika mengenal suasana Saung Angklung Udjo.

Hamparan musik yang ditampilkan pada pertunjukan angklung sunda pun tak hanya melagukan lagu-lagu daerah tetapi lagu nasional karya Ismail Marzuki pun bisa di mainkan dengan khidmat para pemain angklung. Mang Udjo murid Daeng Soetigna sang Bapak Angklung Dunia ini memberikan banyak perubahan pada kesenian angklung sehingga tak hanya bisa dimainkan untuk musik daerah yang diatonis tapi juga bisa dimainkan untuk berbagai macam lagu. Dan tak hanya itu berbagai kesenian lain dari sunda pun ikut di pertontonkan kepada para turis asing maupun domestik, seperti wayang golek yang dimainkan secara apik dan meyenangkan walaupun dengan waktu yang tak begitu lama, pertunjukan angklung Helaran, serta Arumba (Alunan Rumpun Bambu).

Helaran, kalau anda tahu merupakan sebuah pertunjukan angklung yang dimainkan pada upacara khitanan dan panen padi. Dimainkan dengan nada yang riang untuk menghibur anak yang dikhitan atau merupakan suatu bentuk syukur pada Sang Pencipta atas segala kebesaran-Nya.

Pertunjukan bambu petang yasng rajin digelar pada pukul 15.30 hingga 17.30 ikut meramaikan suasana kehidupan seni di Saung Udjo. Banyak wisatawan yang terhibur mulai dari kalangan tua dan muda, baik domestik maupun turis luar negeri. Banyak turis dari Negeri kincir angin yang bernostalgia disana, mengingat-ingat kenangan ketika dulu di Indonesia.

Tak Cukup sampai disitu, para pengunjung tak hanya di suguhi tontonan-tontonan kesenian saja tapi mereka pun ikut berinteraksi dengan para pemain. Diajaknya mereka menari dan mendendangkan lagu yang di ikuti oleh arahan dari semacam dirijen ketika berupacara. Gelak tawa sering kali terjadi ketika mereka mencoba mendendangkan sebuah not lagu, anak-anak pasundan yang riang ikut membimbing ketika mereka menari dan
bergoyang.

Masjid Agung Bandung


Lebih dari 100 tahun yang lalu, bangunan istana umat Islam di pusat kota Kembang berdiri kokoh. Seperti halnya bayi yang baru lahir, dia tidak begitu saja bisa langsung berjalan apalagi berlari. Semua ada tahapan-tahapan tertentu yang harus dilalui. Begitu pula dengan mesjid yang terletak di pusat Kota Bandung ini. Tidak serta merta bisa kokoh dan nampak indah seperti sekarang.

Dalam riwayatnya, Mesjid Agung Bandung dulu awal dibangun hanya berbalutkan dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Begitu pula dengan aksesoris mesjid yang lain masih menggunakan bahan-bahan tradisional. Bahkan ada kolam cukup luas yang digunakan untuk berwudhu, sumber air ini pun bermanfaat untuk memadamkan si jago merah yang terjadi di sekitar Mesjid Agung Bandung pada waktu itu.

Sejarah lain mengatakan pembangunan pusat ibadah umat Islam terbesar di Kota Bandung ini “berduet” dengan pembangunan Pendopo Kabupaten Bandung di selatan pusat Kota Kembang ini. Selain itu mesjid ini adalah salah satu elemen pusat kota tradisional waktu negeri ini, di jajah oleh negeri kincir angin yaitu sebagai simbol religiusitas serta sebagai pusat keagamaan kota.

Masyarakat Priangan sangat memanfaatkan mesjid ini sebagai lahan untuk beribadah. Tidak terbatas melaksanakan shalat saja tapi juga aktivitas agama yang lain. Begitu pula yang dimanfaatkan oleh para pengelola mesjid, berusaha untuk bisa memakmurkan tempat ibadah ini dengan berbagai aktivitas seputar Islam. Contohnya adalah menggali potensi masyarakat terhadap Al-Quran dengan mengadakan pengajian, ataupun memperingati hari-hari besar umat Islam.

Mesjid Agung ini juga sering disebut Bale Nyungcung (Bale: tempat pertemuan masyarakat, nyungcung: lancip). Dikatakan seperti itu, karena bentuk atapnya yang lancip (nyungcung) seperti gunungan. Menurut catatan sejarah, mesjid yang bertempat di Alun-Alun Bandung ini berhadapan dengan Bale Bandong yang berfungsi sebagai tempat pertemuan tamu kehormatan Kabupaten Bandung.

Sama seperti halnya kantor lembaga biasa, mesjid ini pun memiliki struktural kepengurusan agar tata tertib dan kemakmuran mesjid lebih terjaga. Karena ketekunan para teknokrat masjid dalam melaksanakan amanahnya, syi’ar dan kemakmuran rumah Allah ini senantiasa terpancar ke setiap penjuru kota kembang.

Karena mengikuti arus zaman, pusat ibadah ini pun mengalami metamorfosis dalam perwajahannya. Mulai dari bongkar pasang bangunan mesjid sampai perombakan di sekitarnya agar lebih luas. Beberapa ornamen masjid dibuat lebih menarik dengan gaya khas Priangan.

Meskipun demikian, bangunan mesjid tidak luput dari wajah tradisional Sunda dari bentuk mesjid sampai aksesoris yang terpajang pun menyampaikan bahwa seni Sunda tidak akan pernah hilang meskipun tergiring ombak perubahan zaman menjadi lebih modern. Di tahun-tahun berikutnya, Mesjid Agung dilengkapi dengan serambi depan dan sepasang menara yang tidak begitu tinggi dengan tutup menara dibuat tumpang susun di kiri-kanan bangunan.

Mesjid yang juga dijuluki “Kaum Bandung” ini terus mengalami pembedahan bangunan. Perubahan drastis tampak pada atap mesjid, atap mesjid tumpang susun yang dipakai dari awal mesjid ini terbentuk, kini diubah menjadi kubah model bawang bergaya Timur Tengah. Lalu dibangun menara tunggal yang berdiri tegak di halaman depan mesjid. Masa demi masa telah dilalui, seiring bergulirnya perubahan perkembangan kota yang terkenal dengan oncomnya ini, kini Masjid Agung pun menjadi pusat pendidikan Islam serta pusat kesehatan masyarakat.

Kemakmuran mesjid yang pernah menjadi tempat pertemuan besar seperti Konferensi Asia Afrika ini semakin nampak jelas. Kumandang takbir yang berkoar-koar memanggil umat Islam sekitar sana untuk segera menunaikan ibadah shalat terdengar sangat lantang. Gemuruh orang-orang yang menuntut ilmu dari anak-anak sampai kakek-nenek berkumpul disana. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekitar pun tak terelakan. Kini Masjid Agung memiliki multi fungsi, bukan hanya sebagai sarana ibadah saja.

Gema tausiyah yang disampaikan oleh para da’i bukan hanya dapat didengar oleh para jama’ah yang hadir di tempat, tetapi juga dengan mengudara melalui media elektronik seperti radio. Sehingga masyarakat juga dapat mendengarkan ceramah melalui radio.
Setelah adanya pelantikan pemimpin baru Jawa barat pada waktu itu, Mesjid Agung dibedah total. Beberapa tubuh mesjid yang sudah tidak digunakan diwakafkan kepada mesjid-mesjid yang ada di Kota Peuyeum (tape singkong) ini. Tanpa tinggal diam, Gubernur Jawa Barat yang baru itu langsung mengerahkan pasukan untuk merombak kembali Mesjid Agung. Untuk tahap pertama yaitu, pembuatan bangunan yang menjulang tinggi serta dibuatnya jalan penghubung antara Mesjid Agung dengan pusat kota. Pembangunan itu memakan biaya puluhan juta rupiah.

Perombakan itu membuat wajah mesjid semakin modern. Lantai mesjid kini sudah bertingkat, semua bahan pembuatan bangunan yang terbuat dari bata dan beton, ornamen menara yang dilapisi logam, atap kubah model bawang yang diganti dengan model joglo. Namun, atap tradisional mesjid diganti dengan kubah, sehingga kesan bangunan mesjid akan lebih mudah dikenali.

Perubahan ini semakin memberikan kesan modern yang kini telah menguasai arus zaman hingga mesjid pun tak luput dari korban modernitas. Meskipun demikian, bangunan baru ini dapat menampung ribuan orang, selain itu terdapat ruangan khusus untuk meminjam ataupun membaca buku bagi para pengunjung mesjid.

Perlu diketahui pula, bahwa Presiden pertama RI pun pernah berkontribusi dalam perombakan Mesjid Agung Bandung. Namun beberapa tahun setelah kemerdekaan RI, perwajahan Mesjid Agung sungguh sangat memprihatinkan. Dinding mesjid saat itu di penuhi ornamen batu granit serta pintu gerbang yang dikerangkeng besi.

Perubahan itu membuat tempat ibadah terisolasi. Di tambah dengan hiruk pikuk pertokoan yang dari tahun ke tahun semakin menghimpit mesjid bersejarah ini. Beberapa puluh tahun kemudian, di tangan seorang arsitek, mesjid ini mengalami kembali perubahan yang cukup signfikan. Yaitu dengan diperluasnya beberapa pijakan kaki mesjid serta me-reshuffle beberapa bangunan.

Hingga akhirnya renovasi besar-besaran ini mengundang perhatian tokoh besar Jawa Barat. Maka beliau mengadakan pertemuan dengan beberapa pasukan yang turut andil dalam pembangunan mesjid untuk merubah nama Mesjid Agung menjadi “Mesjid Raya Bandung Jawa Barat”. Proyek renovasi ini memberikan nuansa baru dengan dibangunnya dua menara kembar dengan ukuran ketinggian yang melambangkan asma Allah SWT. Bangunan yang mejulang tinggi ini juga dimanfaatkan untuk kepentingan komersial, telekomunikasi dan obyek wisata.

Jumat, 02 Oktober 2009

Titik Nadir Mudik

Senandung Takbir senantiasa bergema dengan syahdunya menandakan hari kemenangan telah tiba. Orang-orang berduyun-duyun pergi ke masjid dengan hati yang sumringah, serempak menggelar salat akbar yang setahun sekali, Iedul fitri telah datang.
Setelah sebulan lamanya masyarakat kaum muslim menjalankan ibadah puasa menahan lapar, dahaga dan hawa nafsu yang meraung-raung dalam tubuhnya, kini semua serasa mulai terbalas apa yang telah dilakukannya. Hal ini pun diperindah dengan berkunjungnya sanak saudara yang jauh-jauh datang dari kota untuk bersilaturahmi, mengikat kembali tali-temali yang sempat merenggang dan saling bermaaf-maafan. Damai setidaknya itu kata yang mungkin tepat dalam menggambarkan situasi seperti itu.

Maka tak heran Lebaran atau Iedul fitri menjadi acara yang sangat penting, orang-orang kota perantau rela mengantri, bermacet-macetan, berpanas-panasan di terik matahari, mengendarai motor puluhan kilometer dengan hanya untuk merayakan lebaran di kampung halamannya masing-masing. “Mudik”, ya itulah kata yang pasti kita kenal. Secara bahasa kata mudik ini ternyata berasal dari kata “udik” yang artinya hulu sungai, pegunungan, kampung/ desa, orang yang pulang kampung tersebut disebut “me-udik” kemudian dipersingkat menjadi “mudik” yang kurang lebih artinya adalah pulangnya para perantau yang mengembara (mencari nafkah) di kota untuk kembali ke asalnya.

Sekarang fenomena mudik ini menjadi salah satu tradisi religiusitas turun temurun masyrakat Indonesia dan menyerap menjadi budaya khas lebaran yang tak terkikis oleh ruang dan waktu. Fenomena bermaafan dan bersilaturahmi dapat menyimbolkan fenomena metafisik, yakni fenomena religiusitas dan komunikasi transendental antar manusia dengan Tuhannya (Habluminallah). Sehingga dapat juga dijadikan sebagai satu variabel untuk mengukur tingkat religiusitas seseorang. Salah satu konsep religiusitas dalam metodologi penelitian, misalnya, model Glock dan Stark (1989), adalah mempertanyakan apa yang diistilahkan sebagai keterlibatan ritual (ritual involvement), yaitu tingkat sejauh mana seseorang terlibat mengerjakan ritual-ritual tradisi keagamaan mereka, dan juga keterlibatan secara konsekuen (consequential involvement), yaitu tingkatan sejauh mana perilaku seseorang konsekuen dengan tradisi ajaran agamanya.
Konsekuen religi mereka pun bisa di ukur dari segi ekonomi, tapi sayangnya prinsip asas manfaat dan budaya hemat dalam ekonomi banyak dari mereka yang mengabaikan.
Uang hasil kerja keras di kota rela dihamburkan demi kepentingan-kepentingan mereka dan keluaraga. Hal itu tentu saja sangat berberangan dengan keyakinan islam seutuhnya, dimana riya (memamerkan) dan berboros-borosan atau berlebih itu dilarang dengan keras dalam Kalamullah. Tapi hal demikian itu mereka anggap perlu dengan alasan sebagai bukti betapa suksesnya mereka hidup di kota, tak sia-sia mereka hijrah ke kota selama ini. Mereka korbankan tabungan mereka, mereka belikan perhiasan yang mentereng, kendaraan bermotor yang anyar dan barang-barang yang lainnya.

Tapi positifnya semua pengorbanan itu dianggap impas ketika mereka sampai di kampung halaman bisa bercengkrama dengan sanak saudara, ayah dan bunda mereka. Semangat kebersamaan antar umat seiman mereka perlihatkan dengan berkeliling silaturahmi saling bermaafan dan berbagi sesamanya. Uang yang hanya mengalir deras di kota itu kini mulai berputar di desa-desa, walau sesaat tapi cukup untuk mensejahterakan orang desa dan sejumlah orang miskin tak lagi mengernyitkan keningnya walaupun, itu berlaku hanya sementara saja antara satu atau dua hari.

Mudik Jembatan Kumuhnya Kota
Tradisi mudik yang banyak menyedot perantau ini pun tak ayal menjadi jembatan kunci informasi dari kota untuk desa. Para perantau yang “berhasil”, berbagi berita dan cerita kesuksesan mereka ketika di kota, memberikan informasi pekerjaan yang layak di kota.

Sehingga menjadi pemicu arus urbanisasi yang kompeten setiap tahunnya, menyebabkan kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung menjadi lebih sesak lagi dengan datangnya para perantau yang mencoba menggantungkan nasibnya. Mereka berharap dengan hijrahnya dari desa ke kota bisa mendapatkan pendapatan keseharian yang lebih baik di kampungnya, padahal para migran ini tidak mempunyai skill memadai yang diperlukan di kota. Sehingga pada akhirnya banyak diantara mereka yang malah menganggur dan menambah lebih banyak lagi gelandangan.

Maka, bila melihat kedepannya patologi (kesimpangan) sosial yang terjadi di kota-kota akan lebih sulit lagi untuk di bendung karena para perantau tersebut lebih banyak yang gagal dan menjadi pengemis di kota yang menyebabkan lebih banyak lagi tempat kumuh, sehingga tingkat kriminalitas pun meninggi. Kalaupun pulang kampung mereka pasti akan merasa malu dan tidak akan pulang sebelum kesuksesan tersebut di raihnya.

Dengan begitu hendaknya semangat bersilaturahmi, bermaafan dan berbagi di hari lebaran seharusnya dapat lebih ditingkatkan dan tak hanya sekedar menjadi fenomena tahunan belaka. Menjadikan lebaran sebagai akar yang kuat dan menumbuhkan pohon sosial yang penuh nilai dan makna yang solid dan peduli serta menjadikannya budaya kehidupan sehari-hari. Mungkin dengan begitu sedikitnya dapat mengimbangi patologi sosial yang terjadi di kota.

Selasa, 11 Agustus 2009

Surganya Noordin M Top

Almarhum Bendul baru seminggu meninggal dunia, oleh Malaikat jalan-jalan di akherat guna diperkenalkan dengan lingkungan barunya.Disuatu tempat Bendul melihat orang-orang yang disiksa, dicambuk dan dibakar di atas api neraka. Setelah disiksa mereka mati tapi hidup lagi lalu disiksa lagi. Begitu terus berualng-ulang. Lalu Bendul lalu bertanya kepada Malaikat. “Wahai Malaikat, tempat apakah itu namanya? dan kenapa mereka disiksa?”“O..itu namanya neraka, tempat orang-orang yang selama hidupnya suka mencuri, berzina, korupsi dan semua perbuatan berdosa lainnya.” jawab Malaikat.O.. begitu ya…lalu Bendul diajak berjalan lagi untuk melihat tempat penyiksaan yang lain sampai suatu saat Bendul melihat Noordin M Top CS sedang berada di tempat yang sejuk, indah dan pemandangannya indah sekali.Di sana Noordin M Top CS ditemani wanita-wanita cantik telanjang, diiringi musik nan merdu, di meja dihidangkan makanan yang serba lezat. Lalu dengan sedikit heran Bendul bertanya. “Wahai Malaikat tempat apakah itu namanya ?”“O..itu surganya Noordin M Top !’ Jawab malaikat. Kemudian Bendul diajak berjalan lagi.Tiba-tiba terdengar suara Bom, Bluarrr,,Bendul heran tapi masih terdiam,,mereka pun berjalan lagi. Sekitar sepuluh menit kemudian terdengar bom lagi.Bendul pun bertanya kepada Malaikat, “Suara apakah itu wahai Malaikat ?”“O..itu suara bom, setiap sepuluh menit surganya Noordin kami ledakkan..!! !” jawab sang Malaikat
Salam

Kamis, 23 Juli 2009

Bahaya Nasi, apakah bener bahaya?

Hasil research yang baru saja di lakukan membuktikan bahwa makan nasi ternyata tidak baik bagi kita.

Buktinya :

1. NASI MENYEBABKAN KECANDUAN. Responden kami yang tidak makan nasi selama sehari saja akan kelaparan dan merasa sangat ingin makan nasi lagi.

2. SETENGAH dari seluruh siswa Indonesia yang makan nasi nilainya ada di bawah rata-rata kelas.

3. Suku-suku pada zaman batu yang tidak pernah makan nasi terbukti TIDAK PERNAH mengidap tumor, Alzheimer, osteoporosis, ataupun Parkinson.

4. Dokter melarang bayi yang baru lahir untuk makan nasi. Hal ini menjadi bukti bahwa nasi punya dampak berbahaya yang sudah dibuktikan oleh ilmu kedokteran.

5. Nasi yang kering biasa dimakan oleh ayam. Nah, sekarang anda perlu curiga dari mana flu burung berasal.

6. Jumlah pemakan nasi di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pemakan nasi di negara maju. Ini mungkin salah satu penyebab keterbelakangan pada negara ini.

7. Di warung-warung, biasanya KULI makan nasi dalam jumlah lebih banyak daripada kaum eksekutif. Hal ini membuktikan! jika makan nasi MENURUNKAN kemampuan ekonomi seseorang.

9. Makan nasi dapat menyebabkan rasa haus alias MENYERAP air. Padahal tubuh kita sebagian besar terdiri dari air.

10. Dalam kondisi tertentu, makan nasi MENINGKATKAN resiko kematian. Misalnya makan nasi sambil menyetir mobil.

11. Pengidap DIABETES lebih dianjurkan makan kentang daripada nasi. Berarti nasi kurang baik bagi kesehatan.

12. Makan nasi menyebabkan keinginan mengkonsumsi sayur dan lauk. Misalnya nasi bandeng (nasi + bandeng goreng), nasi kucing (nasi + kucing goreng),dsb. Hal ini bisa menyebabkan obesitas.

13. Nasi mengandung ZAT BESI yang konf elektron terluarnya 4s2. Zat lain yang elektron terluarnya 4 adalah Racun ARSENIK (4p3), Batu batere TITANIUM (4s2), dan racun yang menyerang Superman yaitu KRIPTON (4p6). Ini mengindikasikan bahwa nasi punya kesamaan dengan zat-zat berbahaya lainnya.

14. Nasi DIMASAK dalam suhu lebih dari 100 derajat Celsius. Itu panas yang cukup untuk bunuh orang.

15. Nasi menyebabkan berkurang ketelitian dalam melihat.. buktinya Anda tidak memperhatikan bahwa No. 8 tidak ada,

so, Anda pasti akan melihat ke atas lagi untuk membuktikan No. 8 Tidak ada. Hehehehe..

Rabu, 15 Juli 2009

Atasi

Bagaimana menjawab bagaimana
Ketika lautan kembali terbelah
Langit membentuk warna merahnya
Aku tak sanggup brbuat apapun
Sujudku yang senantiasa bisa ku tapaki sendiri
Pasrah, bukan itu yang aku inginkan
Pedang apapun yang ku punya kan aku acungkan ke langit
Ku robek udara pnas itu
Kan ku datangkan musim semi yang mengiring bernyanyi

Iklan

Search and download it!

Berita terkini

wibiya widget